Mitos, Penalaran, dan Cara Memperoleh Pengetahuan
MITOS
Mitos adalah sebuah imajinasi dari manusia yang berusaha untuk menerangkan
gejala alam yang ada pada saat itu yang dikaitkan dengan kepercayaan akan
adanya kekuatan ghaib. Namun, disebabkan oleh keterbatasan manusia dalam
menjelaskan hal tersebut sehingga cenderung di identikan dengan seorang
dewa/dewi, tokoh misteri serta sesuatu yang berbau mistis. Sehingga pengetahuan
yang diperoleh bersifat subjektif. Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat
terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itu lah,
manusia menerka-nerka sendiri jawaban atas keingin tahuannya itu. Sebagai
contoh : “mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia
menerka-nerka jawabannya sendiri : “yang berkuasa dari gunung itu sedang
marah”. Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama munculah anggapan adanya
“yang kuasa” didalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar,
matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana
bulan.
LEGENDA
Legenda adalah sebuah cerita yang dirangkai secara turun temurun dan
dipercayai oleh masyarakat karena terbukti secara logis dalam pendeskripsian
ceritanya, cenderung mengemukakan kehadiran seorang tokoh yang dikaitkan dengan
terjadinya suatu daerah. Contohnya: Tangkuban perahu, Sangkuriang, Lutung
kasarung, dan lain-lain.
CERITA
RAKYAT
Cerita rakyat merupakan suatu peristiwa yang dikisahkan untuk menjelaskan
akan terjadinya sesuatu yang ada dimuka bumi ini. Salah satu contoh kisah
rakyat yakni tangkuban perahu sebagai perwujudan kemarahan sangkuriang yang
telah gagal dalam mewujudkan calon pinangannya yang merupakan ibu kandungnya
sendiri. Kisah bawang merah dan bawang putih yang telah kita kenal sejak dahulu
dapat menjadi salah satu contoh dalam hal ini.
Berfikir adalah suatu kegiatan untuk memperoleh/menemukan
pengetahuan yang benar. Proses berfikir dalam menarik kesimpulan berupa
pengetahuan yang benar disebut penalaran. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran
ini merupakan hasil kegiatan berfikir, bukanlah hasil perasaan. Tidak semua
kegiatan berfikir merupakan penalaran. Penalaran merupakan kegiatan berfikir
yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni logis dan analistis.
Berdasarkan kriteria ini, maka
tidak semua kegiatan berfikir merupakan berfikir logis dan analistis. Cara
berfikir yang tidak logis dan analistis bukan merupakan penalaran. Terdapat berbagai
cara untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang tidak berdasarkan
penalaran, di antaranya ialah :
a. Pengambilan kesimpulan berdasarkan perasaan.
Merasa, merupakan suatu cara menarik kesimpulan yang
tidak berdasarkan penalaran.
b. Intuisi.
Merupakan kegiatan berfikir yang tidak analistis, tidak
berdasarkan pada pola berfikir tertentu.
c. Wahyu.
Adalah pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada
utusanNya.
d. Trial and error.
Suatu cara untuk memperoleh pengetahuan secara coba-coba
atau untung-untungan.
''
Oleh karena itu, Pola pikir berdasarkan mitos mengajak
manusia untuk berkembang melalui tahap-tahap peradabannya dari menemukan
sesuatu yang asing menuju ke sesuatu yang dikenal. Ini adalah suatu hal yang
dapat kita katakan sebagai pola kemanusiawian biasa. Implikasinya, berpikir
berdasarkan mitos adalah suatu bakat manusiawi, tidak bisa kita hindari.
Demikianlah yang dialami oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia termasuk bangsa
Indonesia, walaupun dapat dipergunjingkan lagi ketika perilaku semacam ini
masih bertahan sampai sekarang.
Komentar
Posting Komentar