Laporan Hasil Kunjungan ke Museum POLRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
Laporan Observasi Kunjungan Museum Polri
Disusun oleh:
1. Afiya Annisa (10516280)
2. Ghozi Rifqi (13516027)
3. Rahayu Puji Utami (15516976)
4. Rizna Imaniska (16516626)
5. Yayang Karla Aprilia (17516736)
Kelas : 1PA06
KATA PENGANTAR
Segala puji serta syukur yang dalam kami panjatkan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat rahmat dan kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Laporan Kunjungan ke Museum Polri.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman dan pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan museum dimana hal tersebut sangat diperlukan untuk memeperluas pengetahuan mahasiswa tentang sejarah Polri khususnya, dengan suatu harapan lainya dimana makalah ini bisa lebih bermanfaat untuk mahasiswa dan bahkan umum.
Makalah ini dapat disusun dan diselesaikan dengan baik dan lancar berkat bantuan dari berbagai pihak yang terkait. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, tidak lupa juga kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Ibu Meti Nurhayati selaku dosen yang mengajar mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD).
2. Penyusun artikel dan media online yang telah saya gunakan untuk membantu penyusunan
makalah ini.
makalah ini.
Kami menyadari bahwa, makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik, saran, dan masukan sangat kami harapkan untuk perbaikan pada penulisan selanjutnya.
Pada akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.
Depok, 08 November 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................1
1.2 Tujuan..................................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................2
2.1 Beranda MuseumPolri.........................................................................................................2
2.2 Bagian Inti Museum.............................................................................................................2
a. Lantai 1......................................................................................................................................3
b. Lantai 2.....................................................................................................................................16
c. Lantai 3.....................................................................................................................................20
2.3 Keterangan Museum..........................................................................................................25
BAB III PENUTUP................................................................................................................27
A. Kesimpulan...................................................................................................................27
B. Saran.............................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................29
HALAMAN LAMPIRAN......................................................................................................30
Bab I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Museum adalah lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Museum berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan studi, penelitian dan kesenangan atau hiburan (Ayo Kita Mengenal Museum ; 2009).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Sedangkan menurut Intenasional Council of Museum (ICOM) : dalam Pedoman Museum Indoneisa,2008. museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi.
1.2 Tujuan
Dalam penyusunannya kami mempunyai beberapa tujuan, yakni sebagai berikut:
1. Untuk melengkapi tugas Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar
2. Guna Menambah wawasan mengenai sejarah dan bagaimana kerja Kepolisian Republik Indonesia dengan mengamati isi Museum
3. Untuk menambah pengetahuan kepada pembaca dan seluruh mahasiswa tentang Museum Polri
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Beranda Museum Polri
Museum POLRI Jakarta merupakan museum yang diresmikan oleh Drs. H. Bambang Hendarso Danuri, M.M, diresmikan pada tanggal 29 Juli 2009 (dilihat dari piagam yang ada). Peresmian Museum Polri dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 1 Juli 2009, bertepatan dengan HUT Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Di depan museum terdapat patung Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia, R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo.
Monumen ini diresmikan pada 14 Februari 2001 oleh Presiden RI KH Abdurrahman Wahid sebagai pendorong semangat dalam melanjutkan pembangunan POLRI yang profesional dan dicintai rakyat.
Selain itu bagian depan museum juga dipajang logo POLRI berwarna keemasan dengan tiga bintang lambang Tri Brata yang menjadi pedoman hidup POLRI. Di halaman depan museum juga terdapat sebuah mobil truk polisi bernomor 4383-04 dengan garis khas merah kuning yang dipajang di atas beton bundar di dekat gerbang masuk.
2.2 Bagian Inti Museum
Setelah melewati pintu masuk, para pengunjung dapat melihat meja informasi untuk pengunjung dan mendapat brosur museum. Peraturan di dalam museum POLRI sama halnya dengan museum – museum lain, tetapi di museum ini pengunjung diminta untuk menaruh tas dan barang bawaan mereka ke dalam loker yang telah disediakan, dengan catatan barang berharga seperti dompet dan telfon genggam di bawa.
Saat kita masuk kedalam museum ini kita dapat melihat beranda lantai dua, bangunan museum ini terdiri dari 3 lantai, dimana masing – masing lantai mempunyai deskripsi yang berbeda pada masing – masing bilik ruangan. Kami akan mulai mendeskripsikan isi museum ini dari lantai dasar, yakni lantai satu.
a. Lantai 1
Di bagian ini, pengunjung dapat melihat bilik yang ada disebelah kiri, yakni sekaligus menjadi jalan awal para pengunjung untuk menjelajahi museum. Pada bilik yang kami sebutkan ini terdapat beberapa koleksi museum yang mendeskripsikan barang – barang kepolisian pada masa awal kemerdekaan. Barang – barang tersebut diantaranya adalah:
A. Ruang Pertama Selasar untuk Masuk
1. Baju seragam kepolisian.
Baju seragam yang terdapat di lantai dasar ini adalah baju yang dipakai kepolisian pada zaman kemerdekaan.
1. Beberapa Alat Komunikasi
Pengunjung dapat melihat beberapa alat komunikasi dan investigasi yang sangat klasik yang digunakan pada awal kemerdekaan, barang – barang tersebut diantaranya adalah.
a. Handie Talkie b. Radio Punggung, c.Signal Generator Radio
d. Radio Recieve Transmitter
a. Handie Talkie
Alat komunikasi merk Motorola Handie Talkie FM Radio PT 400, negara pembuat United State of Amerika (USA). Alat ini digunakan untuk membatu tugas operasional Kepolisian di Polda Metro Jaya.
b. Radio Punggung
Alat komunikasi merk Rocal atau PRM 4021 system HF ssb, negara pembuat Inggris. Alat ini digunakan untuk membantu tugas operasional Kepolisian di Polda Metro Jaya pada tahun 1981.
c. Signal Generator Radio
Alat komunikasi merk Motorola T-1034A, negara pembuat United State of Amerika (USA). Alat ini digunakan untuk membatu tugas operasional Kepolisian di Polda Metro Jaya pada tahun 1962.
d. Radio Receiver Transmitter Alat komunikasi buatan electrospace RT-841 atau PRC-77 system Hf atau SSB Negara pembuat United state of America (USA) alat ini digunakan untuk membantu tgas operasional ke polisiaan di polda metro jaya digunakan pada tahun 1981.
Pada bagian bilik yang sama juga terdapat beberapa alat investigasi yang dipakai pada awal kemerdekaan.
Alat komunikasi buatan electrospace RT-841 atau PRC-77 system Hf atau SSB Negara pembuat United state of America (USA) alat ini digunakan untuk membantu tgas operasional ke polisiaan di polda metro jaya digunakan pada tahu 1981.
Pada bagian bilik yang sama juga terdapat beberapa alat investigasi yang dipakai pada awal kemerdekaan.
Alat komunikasi buatan electrospace RT-841 atau PRC-77 system Hf atau SSB Negara pembuat United state of America (USA) alat ini digunakan untuk membantu tgas operasional ke polisiaan di polda metro jaya digunakan pada tahu 1981.
Pada bagian bilik yang sama juga terdapat beberapa alat investigasi yang dipakai pada awal kemerdekaan.
· Kamera Tersamar : Koper ini digunakan oleh badan Reserse Kriminal dalam proses investigasi. Koper dilengkapi dengan kamera chinon yang tersembunyi di dalam koper.
· Lie Detector : Polygraph Calibrator Lx 200 W-305 buatan Lafayette Intrument Company ini mulai digunakan Kepolisian RI sejak tahun 1997. Alat deteksi kebohongan ini menggunakan pemeriksaan pneumo calibrate (aliran darah). Cardio Calibrate (Pemeriksaan Denyut Jantung) dan Galvanic Skin respnse calibrate (Pemeriksaan Respon terhadap kulit). Jika dalam hasil analisis terdapat indikasi kebohongan akan dilanjutakan dengan proses interogasi tersangka. Saat ini, alat tersebut digantikan dengan poligraf digital yang menggunakan system komputerisasi.
·
Digunakan pada tahun 1969 merupakan alat yang penting dalam proses pemeriksaan biologi, seperti darah dan DNA. Mikroskop ini juga dapat digunakan untuk memeriksa uang palsu.
c. Samsonite XT Tranceiver Kit
Alat komunikasi yang digunakan oleh kepolisian dalam proses investigasi.
d. Calculator transmitter 570c, Ht Sipe A 400 Fug Spesial, Look Picking, Book 57ub.
· Calculator transmitter 570c : Peralatan khusus yang dibuat tahun 1991 ini merupakan pemancar suara yg bekerja pada frekuensi UHF yang dikemas atau disamarkan dalam bentuk kalkulator.
· Ht Sipe A 400 Fug Spesial : Handy Talky buatan Oerman tahun 1981 merupakan perlatan khusus yang digunakan sebagai pendukung saran komunikasi intelijen.
· Look Picking : Peralatan dari tahun 1981 merupakan seperngkat alat yang digunakan untuk membuka berbagai macam jenis kunci.
· Book 57ub : Peralatan khusus yang dipergunakan sejak tahun 1991 adalah pemancar suara yang bekerja pa frekuensi UHF yang disamarkan dalam bentuk box.
a. Stamping Kit
PS. 156B simplified fingerprint stamping kit adalah alat untuk mengambil sidk jari , alat buatan police science industry Jepang ini mulai digunakan olisi sejak tahun 1997 , stamping kit ini tergolong stamping kit terkecil yang memiliki tempat untuk menyimpan perlatan sidik jari yang diperlukan peralatan yang terdapat dalam stamping kit ini antara lain roller pembersih tint tamping kit ini antara lain roller , pembersih tinta dan kaca untuk engambil sidik jari , sidik jari diambil dengan cara meletakan jari diatas kaca yan telah dioleskan tinta.
Pada ruangan yang sama para pengunjung dapat melihat beberapa koleksi kendaraan roda dua yang pernah di pakai saat awal kemerdekaan.
B. Ruang Sejarah
Bilik ruangan berikutnya para pengunjung dapat melihat perkembangan sejarah dari Kepolisian Republik Indonesia. Di ruangan ini terdapat berbagai macam foto perekembangan Polri, Diorama berdirinya Polri, juga berbagai macam senjata yang dulu digunakan Polri dalam bertugas.
1. Berikut adalah beberapa Diorama yang terdapat di Ruang Sejarah
a. Diploma Bhayangkara
Trikora - Pemisahan TNI POLRI
a. Diploma bhayangkara
Pada zaman kuno sebelum kedatangan bangsa – bangsa barat, kerajaan di Nusantara sudah mempunyai lembaga yang menjalankan fungsi kepolisian, walaupun belum merupakan kepolisian modern, salah satu diantaranya ialah pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Mahapati Gadjah mada dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit mempunyai beberapa lembaga pemerintahan sebagai kelengkapan untuk membantu Raja dalam melaksanakan pemerintahan. Adapun lembaga tersebut antara lain Sapta Dharma Putra, Bhayangkara, Ratu Agabaya, dan Jalanid.
Pasukan Bhayangkara sendiri adalah pasukan yang terdiri dari prajurit – prajurit pilihan. Pada awal pembentukannya hanya terdiri dari 15 orang yang dikepalai oleh Patih Gadjah Mada. Adapun tugas uatama pasukan Bhayangkara adalah menjaga ketentraman, ketertiban, penegakan peraturan sekaligus sebagai pegawai pribadi raja dan Kerajaan.
Majapahit, kemudian dalam perkembangannya pasukan Bhayangkara juga mengemban tugas menegakkan peraturan perundang – undangan kerajaan serta pengawasan perdagangan, inilah cikal bakal fungsi Kepolisian dan keamanan di indonesia yang lahir sejak zaman kerajaan – kerajaan kuno.
b. Polisi Istimewa dan Pertempuran Surabaya
Mendaratnya bala tentara sekutu di Surabaya membuat rakyat Surabaya bergerak melawan aksi pendudukan itu. Mereka bahu – membahu bersama seluruh unsur laskar perjuangan untuk bertempur melawan sekutu tak terkecuali pasukan Polisi Istimewa (PI) yang berkedudukan di Surabaya. Polisi istimewa pada saat itu adalah salah satu kekuatan bersenjata yang senjatanya tidak dilucuti oleh sekutu, oleh karena itu mereka menjadi pasukan yang paling siap untuk melakukan serangan atau menghadapi serangan.
Pertempuran sengit antar pasukan PI dengan sekutu terjadi di Jl. Jembatan Merah, beberapa meter dari kantor polisi Surabaya pada 10 November 1945. Puluhan kusuma bangsan dari PI gugur dalam pertempuran ini sebagai darma bakti anggota kepolisian untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
c. Lahirnya Tribrata Polri
Penyerahan Pataka Tribrata Polri dari Presiden Soekarno kepada kepala kepolisian Negara, Jendral pol (anumerta R.S Soekarno pada HUT Bhayangkara tanggal 1 Juli 1955 merupakan momen penting dalam sejarah Polri. Kepolisian Negara dan bangsa. Ikrar yang dibacakan dengan khidmat di lapangan Banteng, Jakarta tersebut kemudian menjadi pedoman hidup seluruh anggota Plri yang dikenal dengan nama Tribarata.
Adapun tribarata itu sendiri berisikan
1. Polisi adalah Abdi utama daripada Nusa dan Bangsa,
2. Polisi adalah warga Negara utama daripada Nusa dan Bangsa,
3. Polisi adalah wajib menjaga ketertiban pribadi daripada rakyat.
a. Diorama pemisahan Polri dari TNI tahun 1999
Sejak bergulirnya reformasi pemerintahan 1998, terjadi banyak perubahan yang cukup besar, ditandai dengan jatuhnya pemerintahan orde baru yang kemudian digantikan oleh pemerintahan reformasi di bawah pimpinan presiden B.J Habibie di tengah maraknya berbagai tuntutan masyarakat dalam penuntasan reformasi, muncul pada tuntutan agar Polri dipisahkan dari ABRI dengan harapan Polri menjadi lembaga yang professional dan mandiri, jauh dari intervensi pihak lain dalam penegakan hukum.
Sejak 5 Oktober 1998, muncul perdebatan di sekitar presiden yang menginginkan pemisahan Polri dan ABRI dalam tubuh Polri sendiri sudah banyak bermunculan aspirasi-aspirasi yang serupa. Isyarat tersebut kemudian direalisasikan oleh Presiden B.J Habibie melalui instruksi Presiden No.2 tahun 1999 yang menyatakan bahwa Polri dipisahkan dari ABRI.
Upacara pemisahan Polri dari ABRI dilakukan pada tanggal 1 april 1999 di lapangan upacara Mabes ABRI di Cilangkap, Jakarta Timur. Upacara pemisahan tersebut ditandai dengan penyerahan Panji Tribata Polri dari kepala staff umum ABRI Letjen TNI Sugiono kepada Sekjen Dephankam Letjen TNI Fachrul Razi kemudian diberikan kepada kapolri Jenderal Pol (purn) Roesmanhadi. Maka sejak tanggal 1 April, Polri ditempatkan di bawah Dephankam. Setahun kemudian, keluarlah TAP MPR No. VI/2000, kemandirian Polri berada di bawah Presiden secara langsung dan segera melakukan reformasi birokrasi menuju Polisi yang mandiri, bermanfaat dan professional.
2. Berikut adalah beberapa koleksi patung, senjata, dan miniatur di Ruang Sejarah
a. Patung Polisi Zaman Belanda
Polisi pada zaman Belanda dulunya merupakan organisasi kepolisian kolonial kemudian dikembangkan menjadi Polisi Pamongpraja, Polisi Umum dan Polisi bersenjata. Polisi Pamongpraja menjadi bagian dari pemerintahan pribumi yang didukung oleh kepala-kepala desa, para penjaga malam dan agen-agen polisi yang diperuntukkan pada pejabat-pejabat pamongpraja.
Polisi umum merupakan kesatuan khusus dan berfungsi untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kepolisian. Polisi bersenjata untuk polisi pamongpraja dan polisi umum, keduanya ditempatkan di bawah kejaksaan pada Mahkamah Agung sebagai penanggungjawab tertinggi atas pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
Pada tahun 1912, seluruh satuan ini digabung menjadi satu kesatuan dengan pimpinan seorang kepala, tetapi tetap dibedakan antara Polisi Umum dan Polisi Bersenjata. Pada tahun 1914, pejabat kepolisian pribumi dipersatukan menjadi kesatuan terpadu.
b. Patung Polisi Zaman Jepang
Patung Polisi zaman Jepang di sini menjelaskan tentang bagaimana penampilan polisi pada masa itu. Pada masa pendudukan Jepang, Kepolisian terbagi menjadi Boei Gyugun (Pembela Tanah Air) dan Keisatsutai (barisan polisi) Pemerintah penjajah Jepang mengembangkan fungsi kepolisian yang berorientasi pada pembangunan keamanan dalam negeri yang lebih menitikberatkan kegiatan preventif.
c. Koleksi Berbagai Senjata
Berbagai senjata api, laras panjang, senapan mesin, dan beberapa miniatur simulasi
C. Ruang Hall Of Fame
Ruangan berikutnya adalah Ruangan Hall Of Fame dimana ruangan ini terdapat foto para petinggi Polri dari awal pembentukkannya sampai sekarang. Di ruangan ini juga terdapat beberapa pakaian dan tongkat milik para petinggi polri tersebut.
b. Lantai 2
Di lantai dua, terdapat berbagai macam ruangan yang masing-masing ruangan berisi koleksi yang berbeda yaitu Ruangan Kesatuan, Ruangan Simbol Kepolisian, Ruangan kepahlawanan, Ruangan Penegakkan Hukum, Ruangan Labfor dan Identifikasi dan Kids Corner.
Ruangan Kesatuan berisi mengenai bagian-bagian yang ada di dalam tubuh polri beserta kewajibannya
D. Ruang Simbol Kepolisiaan
Ruangan Simbol Kepolisian berisi berbagai macam-macam atribut dan hal-hal yang berhubungan dengan kepolisian seperti topi, tanda pangkat, Hymne Polri, lambang polri, lambang kepolisian daerah dan beberapa contoh foto pakaian seragam yang dikenakan oleh polisi Indonesia.
D. Ruang Penengakkan Hukum
Ruangan Penengakkan Hukum berisi beragam kasus dan pekerjaan yang dilakukan oleh polri mulai dari Pembunuhan, Kejahatan dunia maya, kejahatan Narkoba, Penculikkan, Pembalakkan Ilegal sampai pengamanan Event tertentu dan kasus-kasus terkenal yang menyita perhatian masyarakat. Diruangan ini juga ada peralatan pendeteksi uang dan Uang palsu serta Robot Pendeteksi Bom RAT G2N.
E. Ruang Labfor
Ruangan berikutnya ialah Ruangan LABFOR (Laboratorium Forensik) dan Identifikasi dimana ruangan ini berisi penjelasan & tata cara kepolisian melakukan identifikasi terhadap korban dan pelaku kejahatan baik pembunuhan, kecelakaan lalu-lintas maupun terorisme. Di ruangan ini terdapat replika mobil LABFOR, Laser photonica fingerfinder, Scan sidik jari, TKP kit untuk kasus pembunuhan, TKP Lalu-lintas & Beberapa contoh sketsa wajah Teroris.
Ruangan berikutnya adalah Kids Corner, Di ruangan ini Traveler yang membawa anak atau ponakkan yang masih kecil bisa diajak bermain diruangan ini. Selain bermain anak-anak juga mengetahui peran dan fungsi kepolisian indonesia dan mengenal polisi lebih dekat dengan mengikuti permainan Detektif Cilik dan Kuis Sejarah kepolisian.
b. Lantai 3
Di lantai Tiga hampir sama dengan lantai duan dimana dilantai ini juga terbagi beberapa bilik ruangan.
A. Ruang Detasmen
Ruangan pertama ialah Ruangan Detasmen 88 yaitu detasmen khusus polri yang menangani penanggulangan terorisme. Pasukan ini dilatih secara khusus untuk menangani segala macam teror, termasuk teror bom. Di ruangan ini terdapa berbagai macam hal-hal yang berhubungan dengan kasus yang ditangani oleh detasmen ini diantaranya Bom Bali 1 dan 2, Bom kedubes Australia, Bom J.W Marriot dan lain-lain. Di ruangan ini juga ada berbagai macam barang bukti yang dikumpulkan oleh detasmen ini diantaranya beberapa serpihan Bom, Saklar rekayasa mekanik, Maket TKP bom bali 1 dan lain sebagainya.
Berikut ini adalah beberapa foto bukti Bom Bali 1.
A. Ruangan berikutnya adalah ruangan Sejarah Pendidikan Polri.
Diruangan ini menjelaskan sejarah pendidikan awal polri dari tahun ketahun dan juga menyimpan berbagai macam seragam yang dikenakkan anggota polri.
B. Ruang Unit-Unit Kepolisiaan
Diruangan berikutnya adalah ruangan yang menjelaskan berbagai macam unit-unit yang ada dikepolisian beserta foto-fotonya dan polisi yang ada di aceh beserta nama-nama beberapa polisi yang menjadi korban Tsunami di Aceh.
2.3 Keterangan Museum Polri
Pengunjung dapat melihat keterangan dan informasi Museum Polri dari Website resmi POLRI. Informasi jam operasional dan letak Museum.
Para pengunjung yang ingin belajar tentang sejarah POLRI tidak dikenakan biaya masuk, para pengunjung cukup membubuhkan tanda tangan dan maksud tujuan pada buku tamu yang tersedia pada meja informasi. Selain itu pengunjung juga mendapat fasilitas berupa brosur panduan Museum.
BAB lll
PENUTUP
A. Kesimpulan
Melalui pelaksanaan kegiatan dimaksud, Mahasiswa dapat lebih memiliki kesadaran korps (esprit de corps) dan solidaritas kolektif sebagai anggota Polri sehingga mampu memberikan motivasi tersendiri untuk senantiasa memberikan pengabdian terbaik bagi nusa dan bangsa. Dengan mengetahui sejarah Polri yang dirangkum dalam satu Museum Polri tersebut, Mahasiswa selaku generasi penerus Polri akan senantiasa menjadi insan bhayangkara yang menghargai jasa-jasa para pendahulunya, tidak melupakannya begitu saja seiring perjalanan waktu. Eksistensi Museum Polri di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat menjadi sarana legitimasi Polri melalui ekspresi kesejarahan Polri sehingga masyarakat dapat semakin percaya, cinta dan bangga terhadap Polri dalam menjalankan perannya utamanya dalam masyarakat, to protect and serve.
Dengan kondisi Museum Polri saat ini masih perlu dilakukan pengembangan-pengembangan lebih lanjut secara konsisten dan berkesinambungan sehingga dapat disajikan aspek-aspek kesejarahan Polri secara lebih lengkap dan rigid.
Soekarno's quote
Seperti slogan yang terpambang pada serambi Museum, dimana bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Kunjungan kami ke Museum ini, kami jadi merasakan apa yang dialami para polisi saat awal kemerdekaan hingga sekarang, yang mana dalam prosesnya mengalami perkembangan dan peningkatan kualitas kerja. Dan kami juga semakin menghargai jasa para pendahulu polisi dalam melindungi keamanan dan ketertiban juga bagaimana mereka mengayomi rakyat Indonesia.
B. Saran
Saran dari kelompok kami, pertama sebaiknya para pembimbing lebih aktif dalam membimbing para peserta kegiatan kunjungan wisata. Seharusnya peserta kegiatan kunjungan wisata di beri pengarahan dan dibimbing pada saat kegiatan dan sebelum kegiatan kunjungan wisata maupun dalam menyusun laporan. Kedua, kami juga menyarankan agar diberikan referensi dan batasan masalah dalam melakukan kunjungan observasi, dimana kami dapat mengetahui batasan – batasan dalam membuat laporan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
HALAMAN LAMPIRAN
Foto di depan TRIKORA
Berfoto di depan Museum berlatarkan patung Bapak Kepolisian




































Komentar
Posting Komentar