"Perkembangan Alam Pikiran Manusia" (Ilmu Alamiah Dasar)


PERKEMBANGAN ALAM PIKIR MANUSIA

Manusia memiliki ciri-ciri yang khusus yang tidak dimiliki oleh makhluk lain (makhluk hewan dan tumbuhan). Ciri-ciri tersebut adalah manusia memiliki akal, budi, rasa ingin tahu, kemauan yang lebih baik dan lain-lain. Bila dibandingkan dengan makhluk lain, tubuh manusia lebih lemah, tetapi rohaninya (akal, budi dan kemauan) jauh lebih kuat dan lebih maju di banding makhluk lain.Hal ini terbukti,saat inimanusia telah mampu menguasai dunia dan hewan. Itu semua dapat terjadi karena hanya manusia yang memiliki akal budi dan kemauan keras. Manusia sebagai makhluk berpikir dibekali hasrat ingin tahu terhadap benda dan semua peristiwa yang terjadi disekitarnya, bahkan juga ingin tahu terhadap dirinya sendiri. Pada hakikatnya, perkembangan pikiran manusia didasari dari dorongan rasa ingin tahu dan ingin memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi. Rasa ingin tahu pada manusia tidak sama, selalu berkembang seakan  tiada batas yang menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan.
Tuhan telah menciptakan dua macam makhluk, yaitu satu benda mati yang sifatnya anorganis dan yang lain makhluk yang bersifat organis. Untuk membedakannya, sering yang pertama disebut benda mati dan yang kedua sebagai makhluk hidup.
Benda yang ada di muka bumi ini tunduk pada hukum alam (deterministik), sedangkan mahkluk hidup tunduk pada hukum kehidupan (biologis). Masing-masing memiliki tingkatan dalam perwujudannya. Benda dapat berupa padat, cair dan gas. Manusia merupakan makhluk hidup yang sangat kompleks dan unik, yang dengan seluruh panca inderanya dapat menanggapi segala rangsangan dari luar. Tanggapan-tanggapan tersebut dijadikan suatu pengalaman yang terus berkembang dari waktu ke waktu karena manusia memiliki rasa ingin tahu (kuriositas). Manusia memiliki ciri khas dibandingkan dengan makhluk lainnya di muka bumi ini, di mana manusia merupakan mahkluk tertinggi, lebih sempurna dibandingkan makhluk lainnya.
Hakikat manusia adalah makhluk yang kuat, ada juga yang menyebut hakikat manusia adalah makhluk yang sempurna, ada juga yang menyebutnya makhluk yang paling cerdas. Dari semua itu menunjukkan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang positif. Manusia dengan segala sifat dan karakternya diciptakan dengan sebegitu sempurnanya.
Manusia sebagai makhluk berpikir mempunyai hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa yang terjadi disekitarnya, termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu inilah manusia untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, baik alam besar (makrokosmos) maupun alam kecil (mikrokosmos), serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi. Dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi, menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan.
Pengetahuan yang diperoleh ini akhirnya tidak hanya terdapat pada objek yang diamati dengan panca indera saja, tetapi juga masalah-masalah lain, misalnya yang berhubungan dengan baik atau buruk, indah atau tidak indah. Kalau suatu masalah dapat dipecahkan, timbul masalah lain menunggu pemecahannya. Manusia bertanya terus setelah tahu apa-nya, mereka ingin tahu bagaimana dan mengapa. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, menjadi pengetahuan yang lebih baru.
Rasa ingin tahu manusia terus berkembang melalui pengamatan dan pengalaman inderawi sehingga mampu menemukan apa yang diinginkannya, tetapi karena memang manusia adalah mahkluk yang tidak mudah puas dengan apa yang telah mereka ketahui bahkan sering menemukan jawaban-jawaban yang tidak dapat memecahkan masalah dan tidak memuaskan dirinya, pada masa kuno sering mereka mencoba mencari-cari jawaban dengan mereka-reka bahasa untuk memuaskan dirinya terhadap fenomena alam yang dilihat, dirasakan, didengar maupun dicium oleh mereka. Misalnya apa pelangi itu? Sebenarnya mereka tidak mampu menjawab atas pertanyaan itu, tetapi untuk kepuasan maka mereka mencoba mencari-cari jawaban yang sekiranya dapat memuaskan baik bagi dirinya maupun orang lain, sehingga mereka menjawab bahwa pelangi itu adalah selendang bidadari yang sedang mandi, dari jawaban tersebut muncul pengetahuan baru yakni bidadari. Selanjutnya tentang pertanyaan mengapa gunung meletus? sekali lagi mereka tidak mampu menjawab tapi dengan alasan kepuasan mereka menjawab gunung itu meletus karena yang punya gunung sedang marah, dari jawaban itu muncullah pengetahuan baru yang punya gunung, sehingga mereka memperluas pengetahuannya dengan anggapan segala sesuatu itu ada yang punya, mereka percaya kalau laut itu ada yang punya, angin ada yang punya, pohon besar ada yang punya dan lain-lain. Oleh karenanya untuk menghilangkan rasa kecemasan dari yang punya gunung, laut, pohon besar dan lainnya tidak marah maka mereka melakukan upacara ritual baik dengan cara membaca mantra-mantra, gerakan-gerakan tarian, penyajian sesajen dan lain-lain. Pengetahuan-pengetahuan itu merupakan penggabungan dari pengalaman-pengalaman indrawi dan kepercayaan dan disebut dengan mitos. Cerita-cerita mitos itu disebutlegenda. Mengapa mitos dapat diterima pada saat itu sebagai suatu kebenaran hal ini karena dilatarbelakangi oleh keterbatasan inderawi, keterbatasan penalaran dan hasrat ingin tahunya yang segera ingin dipenuhi.
Rasa ingin tahu pada manusia adalah merupakan karunia Allah kepada manusia, sebagaimana firman Allah kepada Malaikat, bahwa Allah akan menciptakan seorang Khalifah (Adam as) di muka bumi, kemudian Allah mengajarkan Adam nama-nama seluruh ciptaan-Nya. Firman Allah SWT.
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam, nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda-benda itu, jika kamu memang benar.”
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui, selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.”
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu.”
 (QS al-Baqarah: 31,32 dan 33).

Pengamatan terhadap angkasa raya memiliki daya tarik tersendiri pada masa itu, sehingga pengetahuan dalam bidang ini cukup pesat, maka munculah pengetahuan rasi-rasi perbintangan yang sekarang kita kenal yakni : rasi scorpio, rasi virgo, rasi pisces, rasi leo dan sebagainya rasi-rasi ini erat kaitannya dengan peramalan nasib manusia dan dikenalah dengan astrologi. Karena pengetahuan ini hanya bersifat peramalan, imajiner, dugaan dan kepercayaan maka pengetahuan ini disebut Pseudo science (sain palsu) yakni pengetahuan mitos yang dikaitkan dengan fenomena alam yang sebenarnya (mirip sebenarnya tetapi bukan sebenarnya). Sain palsu tersebut sangat berpengaruh pada para pemikir filosuf yunani seperti Thales ( 624-549) ia berpendapat bahwa bumi ini adalah sebuah piring yang terapung di atas air, ia pula yang pertama kali menggagas asal mula benda dan menurutnya semua kehidupan berawal dari air, hal ini merupakan awal pemikiran yang sangat besar karena mampu mengalihkan pemikiran mitos yang menganggap semua yang ada dibumi ini adalah ciptaan dewa, pengaruh pemikiran Thales ini telah menggiring pemikiran bangsa yunani untuk meninggalkan berfikir mitos secara perlahan-lahan. Generasi filosuf Yunani yang telah berhasil menyumbangkan buah pikirannya diantaranya adalah :
A.    Anaximander, Seorang pemikir kontemporer pada masa Thales. Dia berpendapat bahwa langit yang kita lihat sebenarnya hanya separuh saja. Langit dan segala isinya itu beredar mengelilingi bumi, Ia berhasil membuat jam matahari yang menggunakan tongkat yang tegak lurus dipermukaan bumi, bayangan tongkat dijadikan petunjuk waktu (jam tongkat) pada tahun 70-an sering kita temukan jenis ini di masjid untuk pedoman waktu shalat.
B.     Anaximenes, (560-520) Ia berpendapat unsur dasar pembentuk benda adalah air, hal ini sependapat dengan Thales. Yang dikembangkan bahwa air merupakan wujud benda yang dapat berubah merenggang menjadi api, dan memadat menjadi tanah konsep ini menjadi awal kansep transmutasi benda.
C.     Herakleitos (560-470), Ia menyangkal konsep Anaximenes, menurutnya apilah yang menjadi dasar transmutasi benda, karena tanpa api benda akan tetap seperti adanya.

Perkembangan Pola Pikir Manusia dalam  Dunia Islam
Islam bukan hanya sekedar agama, tetapi juga peradaban yang sangat luas menyebar dari Atlantik ke Pasifik dan mencakup kehidupan banyak kelompok etnis termasuk Arab, Persia, Indo, Palestina, Malaysia, China, Afrika, dan lain-lain. Peradaban yang luarbiasa ini telah menghasilkan sejumlah gerakan spiritual, aliran, teknologi, filsafat dan sains yang berada di peradaban besar terkaya lainnya dalam hal intelektual. Untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang pengaruh agama ialah; terhadap wilayah pemikiran dan buah intelektual dari pohon yang tumbuh dari akar agama Islam  serta wahyu Al-quran sangat penting untuk menengok berbagai aliran ini.
Penting untuk menyadari bahwa selama berabad abad para pemikir muslim terkemuka menyumbangan kepada setiap generasi, apa yang dapat mereka pikirkan membentuknya dengan kenyataan dan memecahkan adalah baik yang menyangkut agama maupun yang berkenaan dengan dunia ini berdasarkan Al-quran dan sunnah (hadits).

1. Spiritualitas Islam
Persoalan ini tentu berhubungan dengan Al-quran dan asunnah (hadits) nabi. Hal ini berdasarkan pada makna batin ayat-ayat firman Tuhan dan prilaku nabi yang berkenaan dengan kehidupan batiniah dalam separuh, aspek tradisi Islam  ini di kenal dengan Athariqah Ilallah yang maknanya beerarti jalan menuju Allah diciptakan Tuhan sendiri sehingga umat manusia yang melaksanakan syariah dan di saksikan sebagai muslim pada saat yang sama juga dapat menjalankan kebijakan batiniah.
Agama Islam di bagi menjadi tiga, Al-Islam, Al-Iman dan Al-ihsan atau  kebijakan yang berarti keindahan jiwa merupakan thariqah dan selama berabad abad mereka mengikuti jalan ini berusaha memperoleh ihsan tentu saja dalam waktu yang cukup lama tahun hingga abad sejarah Islam para pengikut tarekat sufi selama berabad abad di anggap mampu memelihara perintah nabi sebagaimana aslinya yang menyangkut kesucian batin sunnah, kebajikan, dalam jiwa manusia.

2. Teologi Islam
Disamping tradisi spiritual sufi  yang kaya beragam dalam Islam dan juga melahirkan bentuk teologi yang ekstensif dan sulit berganti yang di kenal dalam pemikiran Islam sebagai kalam, istilah ini yang mengacu kepada pemahaman Al-quran dan pembangun pemikiran  Islam ini adalah Ali bin Abi thalib setelah nabi Muhamad wafat, masyarakat menghadap berbagai masalah tentu yang menurut pemikiran manusia yang muncul di saat di konfontasikan dengan kehidupan beragam misalnya “Siapa yang harus di selamatkan?” Dosa macam apa yang seseorang muslim?
Semua masalah tersebut beberapa di antaranya bersifat teologi dan memiliki implikasi politik, kaum muslim tidak memiliki pihak kecuali berusaha memuaskan teologi mereka sendiri baik karena tantangan pemikir, filosos, dan teologi Kristen, Yahudi dan juga karena kebutuhan internal masyarakat Islam sendiri.

Penting bagi generasi muda, Islam yang tidak berkesempatan mempelajari tradisi intelektual mereka sendiri, untuk menyadari berbagai madzhab pemikiran Islam apakah itu teologi, ma’rifat, atau fiqh semua di ciptakan dan di petik dengan kesalahan manusia dan di persembahkan untuk memahami kebijakan sunnah tuhan serta mendasarkan diri mereka pada Al-quran dan sunnah yang penting adalah menyadari bahwa Islam merupakan agama bukan hanya berisi  hukum Tuhan yang mengatur bagaimana manusia hidup tetapi juga sebuah tradisi intelektual yang luas menunutun pemikiran manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia dan Keadilan

Manusia dan Keadilan

Laporan Hasil Kunjungan ke Museum POLRI